PENYEJUK TANAH

23.18 / /

Bapa, kasihMu telah memadamkan bara benci di setiap hati insan. Dendam yang membara kini telah padam dan semakin redup. Namun keredupan rasa benci seolah-olah tidak sepadan dengan tanah dan bumi yang semakin memanas ini. Dosa yang dahulu semakin menjauh, kini berada di samping anakMu. Lihatlah, tulang tanganku serasa patah untuk mencangkul tanah yang telah berubah menjadi batu, tumbuhan yang ku tanam semakin lesu dan kering, akarnya tidak mampu bertahan dalam tanah yang gersang dan tandus.


Bapa, seperti pada permulaan segala sesuatunya, berikan firman agar air menguap, berikan perintah agar awan menampung dan berikan ucapan agar hujan menurut untuk turun. Rindu sudah telinga ini untuk mendengar gelegar petir yang menghunus ke perut bumi, rindu sudah telinga ini mendengar titik-titik air yang terhempas pada daun-daun cemara. Aku ingin mengulangi bersuara keras di dalam rumah sebab suara hujan menguasai ruangan istana mungil hambaMu. Berikan air peredam abu, agar anak-anakMu bersukacita untuk menyapu rumah ibadah yang berlantai tanah. Agar jemaatMu tidak ragu untuk duduk tenang pada kursi-kursi gedungMu. Agar cakrawala kembali bersinar dengan udara yang bersih.


Bapa, lihatlah jemaatMu yang kini di ambang putus asa, sebab tanah mereka tidak lagi menghasilkan pangan, sebab mata air sudah mulai tertutup. Tiada lagi penyejuk tanah yang mampu membangkitkan sorak-sorai pepohonan. Tiada lagi penyejuk tanah yang mampu mengembangkan payung-payung untuk berteduh.


Berucaplah Engkau ya Bapa.... agar bumi ini menurut, agar senda tawa dan sukacita kembali terlahir dalam gerejaMu yang kudus. Amin.

Label:

TITIAN KASIH

22.28 / /

Masih terngiang ditelingaku sebuah cerita
Tentang titian kasih yang diperbuat Tuhan
Yang memanjang dari Golgata sampai ke jiwa
Mencengkram hati merasuk ke iman

Melampaui pulau mengarungi samudra
Melewati waktu yang sudah tidak berbatas
Kini berlabuh di tanah yang tercinta
Memanggil kita sebagai umat di Tapanuli Utara

Ia bertahan sampai batas pencobaan
Hingga kesombongan merongrong dan menaban
Tiada tersisa seolah kasih menjadi beban
Bukit Golgata hanya sebuah dendang

Kini….
Melalui ucapan para pelayan ia menjerit,
Dalam bibir-bibir ibu yang mengajar di gerbang hari Minggu ia melejit,
Namun apakah yang terbesit?
Hati nurani dan iman telah rapuh, oleh kesombongan yang terlilit.

Wahai umat yang percaya kepada Kristus Tuhan …
Mari bangkit dalam semangat juang
Membangun titian kasih yang rapuh menuju puncak iman
Dalam tapak langkahmu kan nyata sebuah kesaksian

Saling berbagi, ulurkan tangan kepada seluruh kaum
Kepada mereka yang dalam penderitaan telah mengaum
Tolong… tolonglah mereka yang rindu dan haus akan minum
Buang kesombongan, hingga Tuhanmu akan tersenyum.

Amin.

Label: