Ya.. surya kehidupanku, telah Engkau letakkan beban di atas bahuku, sesungguhnya Engkau berkata bahwa aku sanggup, namun realita kehidupan membuat aku bimbang dan menyerah kepada perasaan yang ragu. Secara jujur hatiku mengakui, bahwa jikalaupun aku berbuat dan mejalani hari-hariku, semua itu berawal dari sikap yang nekad, sebab dalam ketakutan yang teramat sangat, jiwa ini akan mencurahkan keberanian yang sangat besar.
Saat ini, dalam pundakku yang semakin menunduk, ajarlah diriku 'tuk ikut menundukkan kepala bagiMu, agar Engkau mengetahui ketidak sanggupanku. Ajar diriku untuk mengikuti suri tauladanMu. Agar langkahku mencontoh kakiMu yang tidak pernah letih berjalan untuk mewartakan kebenaran. Agar lenganku mencontoh tanganMu yang terus memberikan berkat. Agar hatiku mencontoh ketulusan hatiMu kepada sang Bapa. Sebab tiada yang baik dari setiap gerakanku yang dapat kuberikan kepadaMu, namun ketika Engkau yang menggerakkanNya, itu menjadi persembahan bagiMu.
Ya... sumber kehidupanku, inilah hidupku yang kupersembahkan kepadaMu. Inilah jiwaku yang ku kuserahkan kepadaMu, inilah hatiku yang meminta belajar untuk pasrah kepadaMu. Amin.
Bagimu, senja sudah hari ini,
Tanggungjawabmu belum juga berakhir,
Adakah sedikit cermin di dalam hati,
Membalas jerih payahmu yang setengah mati.
Bunda…
Goresan wajahmu pancarkan mentari,
Tembus dinding baja, demi berbakti,
Bahkan bagi anak-anakmu yang tak tahu diri,
Mungkin orang lain tak peduli,
Namun air matamu gambaran letih.
Bunda…
Engkau pernah bercerita tentang dusun,
Ditengah indahnya hutan pinus,
Ingin rasanya waktu kutembus,
Agar kenanganmu tidak putus,
Dengan tumbuhnya kayu-kayu chaliptus.
Bunda…
Masih terasa rangkulan hangat,
Yang kau berikan menghindarkan mara,
Tidak akan hilang walau dilahap bara,
Seolah engkau siap menghadap sang pencipta.
Bunda…
Cermin wajahmu khan kujadikan semangat,
Di tengah dunia yang semakin laknat,
Aku tak akan menyerah,
Asal teladanmu tetap melekat.
Bunda…
Khan ku jalani jalan setapak,
Seraya doa yang akan kuucap,
Menerjang lurus sampai keatas jagad,
Agar semangatmu mampu kami tiru dengan tekad.
Tentang titian kasih yang diperbuat Tuhan
Yang memanjang dari Golgata sampai ke jiwa
Mencengkram hati merasuk ke iman
Melampaui pulau mengarungi samudra
Melewati waktu yang sudah tidak berbatas
Kini berlabuh di tanah yang tercinta
Memanggil kita sebagai umat di Tapanuli Utara
Ia bertahan sampai batas pencobaan
Hingga kesombongan merongrong dan menaban
Tiada tersisa seolah kasih menjadi beban
Bukit Golgata hanya sebuah dendang
Kini….
Melalui ucapan para pelayan ia menjerit,
Dalam bibir-bibir ibu yang mengajar di gerbang hari Minggu ia melejit,
Namun apakah yang terbesit?
Hati nurani dan iman telah rapuh, oleh kesombongan yang terlilit.
Wahai umat yang percaya kepada Kristus Tuhan …
Mari bangkit dalam semangat juang
Membangun titian kasih yang rapuh menuju puncak iman
Dalam tapak langkahmu kan nyata sebuah kesaksian
Saling berbagi, ulurkan tangan kepada seluruh kaum
Kepada mereka yang dalam penderitaan telah mengaum
Tolong… tolonglah mereka yang rindu dan haus akan minum
Buang kesombongan, hingga Tuhanmu akan tersenyum.
Amin.
Yang terajut dalam rahim ibu,
Kini berpijak di atas bumi yang mengempu,
Berjalan dalam hari serta waktu yang berlalu.
Seperti mata yang semakin mendayu,
Namun kaki dan langkahku akan terus mendayung,
Walau semarak bumi membuat hatiku memilu.
Walau kisah membuatku semakin lunglam,
Takkan kutaruh ditempat hati yang dalam,
Sebab waktu kan menuntunku menuju cendam.
Menerkam jiwaku dalam gangguan yang mengusik,
Sebab takkan pernah mataku akan melirik,
Diatas tanah berduripun aku akan menjinjit.
